Sabtu, 08 Oktober 2016

Pudar




Oh, bayanganmu 
telah lama mengisi ruang kecil di hatiku:
bukan dua tahun, atau empat tahun, lebih dari itu
yang dulu selalu berpendar
di antara sunyi dan malam
Kini rupanya bayanganmu sudah makin pudar; tak berpendar lagi
mungkin hujan yang memudarkannya diam-diam
pada setiap tetes air yang jatuh; tepat pada bayanganmu
Pudar,
biar saja bayanganmu terus memudar
biar sampai tak berbentuk
Tak membekas.

Pembatas Rasa



Diantara empat pemisah; jarak, waktu, memori, dan harapan
aku belajar berhenti berjalan mencari jejak
aku belajar membisu pada detik yang berputar cepat
aku belajar melumpuhkan rasa di memori
dan menggugurkan kata pada alunan suara yang terdalam

Rindu Dalam Cemas



Dapatkah kita memahami rindu sebagai senyum ringan yang kita biarkan melayang bebas
Lantas dapatkah kita mengartikan cemas
Layaknya daun-daun yang mulai riuh,
ketika terbawa angin dan terjatuh entah ke mana
Aku memang rindu,
rindu dalam cemas yang akan terikat kuat
cemas yang membuat rasa tak karuan
“Aku tidak butuh gula dan pemanis buatan lainnya sebab pada kenyataannya rindu tetap saja pahit.”

Dulu, pernah ada rasa dengan seorang laki-laki yang sudah lama tidak saya dengar kabarnya. Dan terkadang rindu membuat saya cemas. Rindu yang berujung pada rasa pahit.

Bisu



Mengapa saling membisu?


pada ruang dan waktu yang sama
tak membicarakan tentang apapun
hanya sama-sama menundukkan kepala
ataukah kita berbincang dari hati ke hati
tanpa mata kita saling beradu
di ruang yang kecil
di waktu yang singkat
kita tak pernah saling menyapa
hanya bisu yang mendekap
tapi, sungguh,
tak apalah
biarlah saja kita tetap bisu
tapi kau dan aku
diriku dan dirimu tetap pada ruang dan waktu yang tak berbeda

Jawaban Rasa





Dulu dan lama,
Namamu berpendar di antara malam,
Sunyi, pada sujudku
Pada harapan-harapanku yang kupermegah dengan doa

Namun inilah jawaban rasa
Jawaban atas doa-doa yang lama kusebut
Lama kupinta,
Jawaban atas kegelisahan

Ada kalanya,
aku mengubah harapan-harapan itu
menjadi kertas putih yang tidak ternodai oleh bibir yang sering berucap:
seperti mengetahui apa yang tidak diketahui
seperti menerka apa yang tidak sampai.

Ada kalanya,
aku menyusun kembali jawaban yang masih tersimpan dan terjaga oleh-Nya
dan kini biarkan aku tak lagi lekap dengan segala tentangnya.


Mei 2016