Kamis, 01 Mei 2014

Kenapa Gak Pake Foto Sendiri? (jejaring sosial)


Bismillah..
Saya akan tuliskan dan jelaskan mengapa saya jarang sekali memakai foto sendiri, yang lagi bergaya (narsis). Pernah saya ditanya dengan teman-teman saya, “Ka kenapa sih gak pake foto lu sendiri aja, pakenya gambar-gambar gitu mulu.”
“Ka, emang kenapa sih gak pake foto sendiri kan biar pada tau muka kita itu kayak gimana.” Atau, “Ka kok gak pernah upload foto lu sendiri sih? Gua gak pernah lihat lu masukin foto di akun lu.”
Maka saya menjawab sambil dengan bercanda, “Hem kenapa ya? Takutnya ntar kalo gua pake foto sendiri pada terpesona lagi.” Atau jawaban saya, “Malu ah kalo pake foto sendiri, jelek.”
Padahal sesungguhnya jawaban saya adalah, “Saudaraku, saya memiliki alas an mengapa tidak memakai foto sendiri yang lagi narsis. Sekali pun pernah pasti bersama teman-teman, namun itu hanya sebentar saya gunakan sebagai foto di akun. Mengapa demikian? Karena saya takut sama Allah, saya takut dosa. Sebab ketika saya memakai foto yang ada diri saya, saya takut jikalau ada lelaki yang melihat menjadi ada nafsu. Bukan kegeeran dan sok kepedean, tapi ini serius. Kalian tahu? Mata lelaki itu sangat tajam, tidak bias melihat sedikit perempuan yang mampu meghiburnya. Bahkan lelaki shaleh pun mungkin jika dihadapi dengan foto-foto perempuan akan merasa tergoda, lalu membayangkan wajah saya. Saya takut ketika mereka, terutama laki-laki yang melihat foto saya akan terbiasa melihat foto-foto saya yang lain. Ya saya memang bukan orang yang suka masukin foto di jejaring sosial, karena memang menurut saya apa gunanya? Jika saya masukin foto-foto saya maka ada puluhan atau bahkan ratusan mata-mata yang tidak bertanggung jawab, bayangkan jika ada satu mata (terutama mata lelaki) lalu dengan sengaja dia mengambil foto saya dan dishare di mana, atau ketika ia ngasih tau temennya bahwa ada foto saya yang seperti ini dan itu. Lalu mereka merasa tergoda, mereka ingin rasanya bertemu, atau bahkan terus dipandangi foto saya. Maka, yang pertama kali berdosa adalah saya, karena saya sudah memancing mata-mata yang “tajam”. Saya memang bukan perempuan cantik denga segala make up dan fashion banget, tapi yang namanya mata lekai itu sangatlah berbahaya.” Sekali lagi bukannya kegeeran, tetapi kita haruslah waspada dan berpikir terlebih dahulu sebelum ingin menyimpan foto di jejaring sosial. Jika memang ingin menyimpan, maka atur dulu agar tidak ada yang melihat foto-fotomu itu. Jika memang foto itu sengaja kamu masukan ke jejaring sosial agar orang lain tertarik padamu, terpesona padamu. Maka sama saja kamu telah membuat orang, terlebih laki-laki itu berbuat maksiat (zina mata)
Saudaraku, sesama  perempuan, muslimah. Apakah sangat perlu wajah kita dipampang, dipamerkan di setiap jaringan media sosial yang kita miliki? Jika saya yang ditanya, maka saya akan menjawab, “Tidak perlu memasang wajah kita (foto di setiap medsos). Mengapa demikian? Karena untuk apa gunanya kita memasang foto, apalagi narsisnya minta ampuuun. Untuk identitas, biar orang tahu siapa si pemilik dari akun medsosnya? Supaya dikenal atau apa? Entahlah, setiap orang pasti memiliki persepsi yang berbeda. Jika alasannya sebagai identitas, maksudnya hanya untuk sekadar memberitahu bahwa si empunya itu adalah si dia. Tetapi saya terkadang bingung, its oke kalau alasannya untuk identitas tapi kan di akun itu ada nama kita tuh, pasti orang atau teman kita pasti akan tahu dong siapa si pemilik akun itu? Selain itu apakah kamu bisa menjamin orang-orang yang melihat fotomu dan kecantikanmu tidak akan tergoda? Tidak akan memiliki nafsu, terlebih jika yang melihat adalah seorang laki-laki. Naah, lalu bagaimana jika yang melihat foto kamu di jaringan sosial itu tidak suka dengan kamu, dan dia bermaksud jahat kepadamu. Kalau laki-laki yang melihat kecantikanmu dari foto-foto di medsos, apa kamu nggak takut nanti fotonya diambil (diunduh) lalu setiap hari ia melihat fotomu atau bahkan guna-gunain kamu biar kamu suka dan jatuh hati padanya (itu yang udah kelewatan). Maaf, bukan maksud saya suudzon, tetapi apa salahnya jika kita sebagai muslimah mengantisipasinya? Lebih baik mencegah atau mengobati?
Perlu saudara ketahui, saya punya dua teman perempuan yang menjadi korban di medsos. Saya memang tidak tahu mengapa bias terjadi seperti itu, tetapi yang jelas saya tahu teman saya itu menjadi salah satu korban di jejaring social Facebook. Ya, mereka berdua memang sangat narsis, banyak sekali foto-fotonya, saya katakana mereka memang cantik, tapi sayangnya mereka sembarangan saja memakai foto dan menyimpan foto di FB tanpa digembok. Alhasil, ada akun yang fotonya mirip dengan mereka, bukan mirip itu memang foto teman saya. Walau pun memang nama akunnya berbeda tetapi setelah saya diberi tahu teman saya, saya kaget dan merasa aneh. Sampe segitunya kah? Ketika saya bertanya, mengapa bias seperti itu? Si korban bingung mengapa semua foto-foto mereka itu ada di kumpulan foto si pemilik akun itu, nama beda, namun foto sama. Bahkan teman saya yang satu semua foto-foto dia di FB juga diambil dengan si (sebut saja plagiat foto), SEMUANYA tanpa terkecuali. Naaah, ada apa gerangan? Kita kan tidak pernah tahu siapa-siapa saja yang tidak suka dengan kita, yang ingin berbuat usil dengan kita. Saya hanya takut si plagiat foto itu menyebarkan foto-foto teman saya dan akan mencelakai teman saya, tapi Alhamdulillah Allah masih melindungi mereka. Akhirnya teman saya yang semua fotonya diambil sama si plagiat itu semua fotonya digembok, dan untuk selanjutnya saya tidak tahu. Berhati-hatilah jika ingin meng-upload foto di jejaring social, media social. Sebab sangat berbahaya. Saya pun pernah mendengar kisah bahwa ada seorang suami isteri yang memasang fotonya di sebuah jejaring sosial. Naah, ternyata ada seorang perempuan yang suka dengan si suami itu, mungkin karena dia masih belum ikhlas si laki-laki itu menikah dan memiliki anak, akhirnya si perempuan ini mengambil fotonya yang lagi bersama anak dan siterinya. Lalu kamu tahu apa yang terjadi? Si perempuan itu guna-gunain si laki-laki yang sudah beristeri itu, karena dia merasa sangat sakit hati. Beberapa bulan kemudian si laki-laki itu mengalami perubahan yang sangat drastis, sampai berbuat kasar dan hamper meninggalkan isterinya. Ya, memang sih terdengarnya kok kayaknya ‘sinetron’ banget siiih. Eeiits, tapi jangan main-main ya, zaman sekarang ini banyak orang jahat yang melakukan segala cara walaupun itu haram dan tidak benar. Apalagi Negara kita Indonesia, mistisnya masih sangat kental. Ada dukun, bahkan ada komunitas kumpulan dukun Indonesia, saya lupa apa namanya. Ya, kalau memang berpikir. Hari gini masih ada guna-guna? Saudaraku yang lembut hatinya, manusia itu bisa jahat bahkan lebih jahat dari iblis. Tentunya kamu juga sering dengar kan, karena jejaring sosial si pemilik akun diculik, bahkan maaf, diperkosa setelah itu kamu dibuang begitu saja. Apakah kamu mau seperti itu, apakah kamu mau orang tuamu sedih. Bukan hanya sedih di dunia tapi akhirat kelak, sebab orang tuamu yang telah menitipkanmu di dunia.
Tahukah kamu? Kita ini perempuan yang dulu jauh sebelum Rasulullah datang, kedudukan wanita sangat direndahkan bahkan diinjak-injak. Bersyukurlah kita karena kedatangan beliau, mampu meninggikan derajat wanita.
Ingatkah kamu dengan hadist Rasulullah yang ini?
Kemuliaan wanita shalihah digambarkan Rasulullah Saw. dalam sabdanya, “Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah“. (HR. Muslim).
Saudaraku, sadarlah dan ketahuilah bahwa engkau sangat istimewa, maka jagalah dirimu baik-baik. Jangan kamu umbar auratmu memalui jejaring sosial, janganlah kamu membuat para kaum Adam tertarik, tergoda dan menimbulkan syahwat karenamu. Apakah kamu rela membagi-bagikan kecantikanmu yang akan dinikmati mereka, apakah kamu ingin kecantikanmu disalah gunakan, kecantikamu dimanfaatkan dengan tidak sangat baik. Apakah kamu rela semua kecantikanmu nampak, lalu suamimu bukanlah orang yang pertama kali melihat kecantikanmu. Melihat bunga yang masih segar dan harum, bukan bunga yang sudah mulai layu karena keindahannya sudah dilihat bahkan dipegang. Jagalah dirimu wahai muslimah, hindari foto yang berlebihan. Jagalah kesucianmu.
Saudaraku, saya menulis ini bukan berarti saya adalah perempuan yang benar-benar shalihah. Perempuan yang benar-benar suci, namun saya hanya perempuan biasa yang tak pernah luput dari salah dosa. Maka, kita sama-sama memperbaiki diri. Tidak inginkah kau menjadi bidadari? Jika memang tidak bias menjadi bidadari di surga, maka jadilah bidadari dunia. Bidadari untuk ibu bapakmu, dan suamimu kelak.
Wallahu a’lam bishowab.
Untukmu, saudara-saudara perempuanku yang aku kasihi karena Allah :)

image

Wanita Ahli Surga


Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“Seutama-utama wanita ahli surga adalah Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Maryam binti Imran dan Asiyah binti Muzahim.” (HR. Ahmad)

1. Khadijah binti Khuwailid

Dia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang terhormat sehingga mendapat tempaan akhlak yang mulia, sifat yang tegas, penalaran yang tinggi, dan mampu menghindari hal-hal yang tidak terpuji sehingga kaumnya pada masa jahiliyah menyebutnya dengan ath thahirah (wanita yang suci).

Dia merupakan orang pertama yang menyambut seruan iman yang dibawa Muhammad tanpa banyak membantah dan berdebat, bahkan ia tetap membenarkan, menghibur, dan membela Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di saat semua orang mendustakan dan mengucilkan beliau. Khadijah telah mengorbankan seluruh hidupnya, jiwa dan hartanya untuk kepentingan dakwah di jalan Allah. Ia rela melepaskan kedudukannya yang terhormat di kalangan bangsanya dan ikut merasakan embargo yang dikenakan pada keluarganya.

Pribadinya yang tenang membuatnya tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan mengikuti kebanyakan pendapat penduduk negerinya yang menganggap Muhammad sebagai orang yang telah merusak tatanan dan tradisi luhur bangsanya. Karena keteguhan hati dan keistiqomahannya dalam beriman inilah Allah berkenan menitip salamNya lewat Jibril untuk Khadijah dan menyiapkan sebuah rumah baginya di surga.

Tersebut dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah, ia berkata:

Jibril datang kepada Nabi kemudian berkata: Wahai Rasulullah, ini Khadijah datang membawa bejana berisi lauk pauk, makanan dan minuman. Maka jika ia telah tiba, sampaikan salam untuknya dari Rabbnya dan dari aku, dan sampaikan kabar gembira untuknya dengan sebuah rumah dari mutiara di surga, tidak ada keributan di dalamnya dan tidak pula ada kepayahan.” (HR. Al-Bukhari).

Besarnya keimanan Khadijah pada risalah nubuwah, dan kemuliaan akhlaknya sangat membekas di hati Rasulullah sehingga beliau selalu menyebut-nyebut kebaikannya walaupun Khadijah telah wafat. Diriwayatkan dari Aisyah, beliau berkata: “Rasulullah hampir tidak pernah keluar dari rumah sehingga beliau menyebut-nyebut kebaikan tentang Khadijah dan memuji-mujinya setiap hari sehingga aku menjadi cemburu maka aku berkata: Bukankah ia seorang wanita tua yang Allah telah meng-gantikannya dengan yang lebih baik untuk engkau? Maka beliau marah sampai berkerut dahinya kemudian bersabda: Tidak! Demi Allah, Allah tidak memberiku ganti yang lebih baik darinya. Sungguh ia telah beriman di saat manusia mendustakanku, dan menolongku dengan harta di saat manusia menjauhiku, dan dengannya Allah mengaruniakan anak padaku dan tidak dengan wanita (istri) yang lain. Aisyah berkata: Maka aku berjanji untuk tidak menjelek-jelekkannya selama-lamanya.”

2. Fatimah

Dia adalah belahan jiwa Rasulullah, putri wanita terpandang dan mantap agamanya, istri dari laki-laki ahli surga yaitu Ali bin Abi Thalib.

Dalam shahih Muslim menurut syarah An Nawawi Nabi bersabda: “Fathimah merupakan belahan diriku. Siapa yang menyakitinya, berarti menyakitiku.”

Dia rela hidup dalam kefakiran untuk mengecap manisnya iman bersama ayah dan suami tercinta. Dia korbankan segala apa yang dia miliki demi membantu menegakkan agama suami.

Fathimah adalah wanita yang penyabar, taat beragama, baik perangainya, cepat puas dan suka bersyukur.


3. Maryam binti Imran

Beliau merupakan figur wanita yang menjaga kehormatan dirinya dan taat beribadah kepada Rabbnya. Beliau rela mengorbankan masa remajanya untuk bermunajat mendekatkan diri pada Allah, sehingga Dia memberinya hadiah istimewa berupa kelahiran seorang Nabi dari rahimnya tanpa bapak.


4. Asiyah binti Muzahim

Beliau adalah istri dari seorang penguasa yang lalim yaitu Fir’aun laknatullah ‘alaih. Akibat dari keimanan Asiyah kepada kerasulan Musa, ia harus rela menerima siksaan pedih dari suaminya. Betapapun besar kecintaan dan kepatuhannya pada suami ternyata di hatinya masih tersedia tempat tertinggi yang ia isi dengan cinta pada Allah dan RasulNya. Surga menjadi tujuan akhirnya sehingga kesulitan dan kepedihan yang ia rasakan di dunia sebagai akibat meninggalkan kemewahan hidup, budaya dan tradisi leluhur yang menyelisihi syariat Allah ia telan begitu saja bak pil kina demi kesenangan abadi. Akhirnya Asiyah meninggal dalam keadaan tersenyum dalam siksaan pengikut Fir’aun.
Dari Abu Hurairah, Nabi Shallallahu alaihi wasalam berkata:

“Fir’aun memukulkan kedua tangan dan kakinya (Asiyah) dalam keadaan terikat. Maka ketika mereka (Fir’aun dan pengikutnya) meninggalkan Asiyah, malaikat menaunginya lalu ia berkata: Ya Rabb bangunkan sebuah rumah bagiku di sisimu dalam surga. Maka Allah perlihatkan rumah yang telah disediakan untuknya di surga sebelum meninggal.”
Wanita yang durhaka

1. Istri Nabi Nuh

2. Istri Nabi Luth

Mereka merupakan figur dua orang istri dari para kekasih Allah yang tidak sempat merasakan manisnya iman. Hatinya lebih condong kepada apa yang diikuti oleh orang banyak daripada kebenaran yang dibawa oleh suaminya. Mereka justru membela kepentingan kaumnya karena tidak ingin dimusuhi dan dibenci oleh orang-orang yang selama ini mencintai dan menghormati dirinya. Maka kesenangan sesaat ini Allah gantikan dengan kebinasaan yang didapat bersama kaumnya. Istri Nabi Nuh ikut tenggelam oleh banjir besar bersama kaumnya yang menyekutukan Allah dengan menyembah patung-patung orang shalih, sedangkan istri Nabi Luth ditelan bumi karena adzab Allah atas kaumnya yang melakukan liwath (homoseksual).

Semua cerita ini telah Allah rangkum dalam sebuah firmanNya yang indah dalam surat At-Tahrim ayat 10-12, yang artinya: “Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shalih di antara hamba-hamba Kami, lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah: dan dikatakan (kepada keduanya) : Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka). Dan Allah membuat istri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisimu dalam Surga. Dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang dhalim. Dan Maryam puteri Imran yang memelihara kehor-matannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan kitab-kitabnya dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat.”

Semoga kisah para wanita ini bisa menjadi pelajaran bagi para wanita zaman ini untuk berkaca diri, kira-kira saya termasuk golongan yang mana? Apakah golongan yang dicintai Allah atau yang dimurkaiNya?

Bagi wanita yang belum berumah tangga, saat ini merupakan kesempatan besar baginya untuk memperbanyak amalan shalih dan mendekatkan diri pada Allah, bukannya justru menghabiskan masa mudanya dengan hura-hura dan kegiatan lain yang tidak bermanfaat. Dan bagi mereka yang sudah berumah tangga, selain menjaga keistiqomahannya dalam berIslam dia juga diberi beban tambahan oleh Allah untuk membantu suami menjalankan agamanya. Istri yang demikian meru-pakan harta yang paling berharga.

Dari kisah mereka, kita juga bisa mengambil pelajaran bahwa dalam keadaan bagaimanapun, hendaknya ketundukan kepada syariat Allah dan RasulNya harus tetap di atas segala-galanya. Asalkan berada di atas kebenaran, kita tidak perlu takut dibenci oleh masyrakat, sahabat, maupun orang yang paling istimewa di hati kita. Justru kewajiban kita adalah menunjukkan yang benar kepada mereka. Dengan begitu kita akan mendapatkan cinta sejati .. cinta Allah Rabbul ‘alamin.
- See more at: image
http://illegaldogma.blogspot.com/2011/07/wanita-yang-mendapat-pujian-dan-wanita.html#sthash.8m4j8vmM.dpuf

Kamis, 05 Desember 2013

Lukisan Bintang Senja



Malam ini langit begitu gelap nan pekat, tak ada satu pun cahaya yang mampu membuatku diam terpesona. Ribuan bintang yang biasanya menemani malam dengan segala keindahannya, dengan segala bentuknya yang memiliki makna tersirat, kini tak menampakkan wajahnya. Udara malam berhembus cepat, menyapa rambutku yang ikal. Aku menatap hamparan langit nan luas dengan tatapan kosong.
            Namaku Dewa, aku memiliki saudara kembar yang bernama Dewo. Kami sangat berbeda. Mengapa begitu? Karena sejak lahir aku terlahir cacat. Lebih tepatnya lagi cacat mental. Entahlah, mengapa hanya aku yang terlahir cacat sedangkan saudara kembarku sama sekali tidak cacat. Akan tetapi aku bahagia memiliki saudara kembar seperti Dewo, dia begitu menyayangiku dengan tulus. Ia tak pernah malu memiliki saudara kembar sepertiku.
            “Dewa, kamu ngapain di sini sendirian?” Dewo menyapaku sambil mengelus rambut ikalku.
            Percuma, aku ingin menjawab pasti Dewo tidak akan mengerti apa yang aku katakan. Walaupun aku tahu kak Dewo dan ibu adalah orang yang paling mengerti dan memahamiku.
            “Kau tahu Dewa? Aku sangat bahagia dan bangga memiliki saudara kembar sepertimu. Aku tahu kau anak yang hebat, meski mereka menilaimu sebelah mata. Aku tahu kau telah memiliki puluhan karya lukisanmu. Dewa, maafkan aku yang terkadang tidak memahami sinyal yang kau tujukan untukku.” Dewa menatapku dengan tatapan penuh kasih sayang, ia mendekapku erat.
***
            Usiaku kini sudah lima belas tahun, namun aku masih seperti anak SD. Meskipun aku tahu aku tidaklah seperti Dewo yang tumbuh sebagai remaja yang sangat gagah dan tampan, kecerdasannya yang mampu membuat semua orang yang berada di dekatnya merasa bangga padanya. Aku bangga memiliki saudara kembar seperti dia. Dia yang dengan sabar mengajariku menulis dan membaca. Kini aku pun sudah bisa membaca dan menulis dengan baik, walau tidak sempurna, tapi aku bersyukur.
            Hari ini adalah hari yang dinantikan Dewo. Ia mengikuti lomba Sains, lebih tepatnya mengikuti lomba Biologi. Ketika Dewo mulai berbicara dan menjelaskan ilmu Biologi itu, semua orang terpana melihatnya. Bukan karena ketampanannya, akan tetapi karena dia yang begitu lihai menjelaskan serta memperagakan apa yang ada di depannya. Ia pun juara satu.
            “Wah Dewo, kamu hebat! Selamat ya, aku salut sama kamu.” Sheina memuji Dewo, perempuan itu sejak SMP memang suka dengan Dewo.
            “Selamat ya Dewo, anakmu hebat sekali Rosa. Dia memang anak yang cerdas, tapi tidak seperti Dewa yang hanya seperti patung.” Ibu Desi memuji Dewo sekaligus menjatuhkanku.
            “Tutup mulut Anda! Dia jauh lebih hebat dari saya, jangan pernah Anda berkata seperti itu.” Dewo membentak bu Desi, salah satu orang tua murid temannya Dewo.
            “Sudah Dewo, kamu tidak perlu emosi. Biarkan orang lain menghina atau memandang Dewa sebelah mata, tapi aku yakin suatu hari nanti Dewa akan menjadi orang hebat. Sama sepertimu.” Ibu menasihatiku.
            “Halah, anak kayak gitu aja diharapin banget. Anak bodoh, cacat, nggak berguna lagi, hidup lagi! Autis.” Kak Selvi berkata kasar di dekat telingaku.
            “Tutup mulut kamu Selvi!” ibu menampar Selvi.
            “Justru kakak yang jauh lebih bodoh dari Dewa! Selama ini memang kakak sudah melakukan apa untuk ibu, untuk keluarga kita? Bukankah selama ini kakak hanya bisa menghamburkan uang untuk kepuasan dan nafsu kakak? Sadar kak, kakak tuh jauh lebih hina daripada Dewa!” bentak Dewo.
            “Cukup! Kalian tidak perlu bertengkar di sini!” ibu membentak Dewo dan kak Selvi. Suasana menjadi hening.
            Aku mengerti apa yang mereka bicarakan. Aku bisa merasakan, walau mungkin mereka berfikir aku sama sekali tidak mengerti. Aku ingin berlari secepat mungkin tapi aku tak bisa, seolah ada yang menahan kakiku untuk melangkahkan kaki dan berlari cepat. Aku ingin menangis, tapi untuk apa aku menangis? Aku ingin menjerit, tapi di tenggorakkanku seperti ada yang mengganjal.
***
            Sesampai di rumah ternyata ayah sudah menunggu kami. Lebih tepatnya lagi menunggu Dewo, menunggu berita yang menggembirakan. Lalu apa yang bisa aku banggakan? Entahlah, mungkin Allah sedang mempersiapkan rencana yang jauh lebih indah.
            “Gimana Dewo, kamu berhasil Nak?” tanya ayah penasaran.
            “Alhamdulillah Yah, juara satu.” Dewo tersenyum hangat.
            “Wah, selamat ya. Ayah yakin kamu pasti menag.” Ayah menepuk bahu Dewo.
            “Hai, Dewa! Apa yang bisa kamu berikan untuk Ayah? Kamu ini sama sekali tidak berguna di rumah ini, hanya bisa menyusahkan orang lain.” Ayah menatapku tajam..
            “Kenapa Ayah dan kak Selvi nggak pernah bisa nerima Dewa dengan baik? Kenapa kalian selalu saja menghina dan memandang sebelah mata? Akan aku buktikan kepada kalian, bahwa Dewa adalah anak yang hebat. Siapa pun yang menyakiti Dewa, maka aku yang akan melindunginya. Sekalipun itu keluargaku sendiri yang melakukan. Camkan itu!” Dewo membanting buku yang sedari tadi ia pegang, lantas bergegas menuju kamarnya.
            Aku melangkahkan kaki ke taman belakang. Aku rebahkan tubuhku di atas rerumputan yang lembut. Menyaksikan burung-burung camar yang mengepakkan sayapnya sambil menari indah. Menyaksikan warna jingga yang melukiskan senja. Aku bahagia setiap aku melihat ke luar sana. Menyaksikan senja serta menatap hamparan langit yang indah penuh pesona. Itulah caraku untuk melepaskan semua rasa sesak yang aku rasakan, juga untuk tetap bersyukur dengan yang Maha mencintai.
            “Dewo, ibu boleh masuk Nak?” ibu mengetuk pintu kamar Dewo.
            “Kenapa Bu?” tanya Dewo.
            Ibu langsung menghampiri Dewo dan menggenggam erat tangan Dewo.
            “Nak, ibu percaya apa yang tadi kamu ucapkan. Suatu hari nanti pasti Dewa bisa menjadi orang hebat. Kau tahu? Beberapa minggu yang lalu ibu menemukan lukisan yang sangat indah sekali, walau ibu tidak tahu apa maknanya.” Ibu menatap Dewo dengan tatapan mata yang bercahaya.
            “Aku sudah sering melihat lukisan Dewa, Bu. Sejak aku masih SD dia memang sangat suka melukis.” Dewo tersenyum manis.
            “Iya ibu percaya Nak. Di mana Dewa sekarang? Dia nggak ada di kamarnya, ibu kira dia ada di sini.” Ibu menanyakan keberadaan Dewa.
            “Aku juga tidak tahu Bu, coba kita cari keluar. Siapa tahu dia ada di taman belakang, dia sangat suka tiduran di sana Bu.” Dewo mengajak ibu ke taman belakang.
            Sebelum ibu dan Dewo ke taman belakang ia menuju kamarku. Melihat semua lukisan yang kubuat juga tiga puisi yang kubuat. Aku sudah banyak melukiskan tentang sesuatu dan salah satu lukisan yang paling aku sukai ialah lukisan bintang senja, aku juga membuat puisi yang berjudul lukisan bintang senja. Lalu ibu membacakan puisiku yang berjudul lukisan bintang senja.
            Aku melihat warna jingga yang meghamburkan warnanya dengan segala keindahannya, jingga yang menggambarkan lembayung senja penuh kehangatan. Aku menatap hamparan langit luas penuh pesona, menyaksikan ribuan bintang bersinar terang menemani sang malam. Jika aku bisa mengambil bintang itu untuk menemani senja, maka akan kuambil bintang itu dengan tanganku sendiri. Bintang yang menemani senja dengan kehangatannya, sehingga mampu membuat yang memandangya penuh pesona, menatap penuh takjub dan bahagia. Dengan bintang senja semua akan terdiam, semua luka dan duka yang tersimpan dalam lubuk hati akan terhapus tanpa sisa.
            “De.. Dewo baca ini baik-baik.” Ibu memberikan kertas itu kepada Dewo.
            Mereka menangis setelah membaca puisi dan lukisan yang kubuat. Lalu segera menemuiku.
            “Dewo, ternyata kamu di sini.” Ibu dan Dewo mendekapku penuh kehangatan dan kasih sayang.
            “Sayang, kamu hebat. Semua lukisanmu sangatlah indah. Terutama lukisan ini.” Ibu menyodorkan lukisan yang kubuat.
            “Puisimu juga bagus Dewa, sungguh pandai kau dalam bermain kata.” Dewo memelukku erat.
***
            Keesokan harinya ibu dan Dewo mengirimkan lukisan dan puisi yang kubuat melalui media. Semua lukisanku diperlihatkan, dipajang dengan rapi. Semua mata memandang penuh takjub. Dan sehari setelah berlalu, media pun ramai. Bukan ramai karena berita selebritis, tapi karena lukisan yang kubuat. Mereka yang melihat memuji karyaku, dan ada turis yang melihat lukisan bintang senja. Ia tertarik dan ingin membelinya dengan harga yang sangat dahsyat. Juga dengan puisiku, mereka terharu membaca puisiku. Semua saluran televisi menayangkan berita itu. Dunia seolah menjadi milikku. Tapi dunia menjadi milikku seutuhnya ketika aku masih bisa berada di dekat ibu dan Dewo.
            “Kalian lihat kan Yah, Kak. Dewo itu hebat, dan hari ini aku bisa buktikan itu!” Dewa tersenyum bahagia.
            Begitulah kuasa-Nya. Aku tersenyum manis pada lembayung senja yang melukis sore. Aku tersenyum bahagia melihat dedaunan yang melambai-lambai. Aku menatap penuh pesona ketika sang malam ditemani ribuan bintang yang melambangkan senyum kepadaku. Aku merasakan hembusan udara yang begitu lembut dan segar lagi. Aku menyaksikan bunga-bunga indah merekah indah penuh warna lagi wangi semerbak. Aku melihat lukisan bintang senja di langit sana, di temani dengan burung-burung yang mengepakkan sayapnya dengan indah dan begitu lihainya.
***
The End

Selasa, 10 September 2013

Merajut Ukhuwah



Kini kami berada dalam satu organisasi,

dalam lingkaran yang sama.

Merumuskan, memecahkan dan menjalankannya bersama-sama.

Kami meniti jalan, jalan cinta para pejuang.

Di sini kami memadu cinta karena-Nya.

Begitu indah untuk dirasakan, bersemai dengan indah.

Bagai bunga-bunga di taman yang sedang bermekaran

Bunga dengan sejuta warna dan keindahannya.

Ukhuwah Islamiyah,

Itulah yang kami rasakan,

Betapa indahnya, betapa manis untuk dirasakan.

Lebih manis dari madu.

Cinta dan kasih yang terajut dengan lembut dan indah.

Lebih lembut dari sutra, lebih indah dari pelangi.

Kami sadar setiap pohon memiliki ranting dan daun yang saling melengkapi. Kami pun sadar di antara reranting itu ada yang sudah tua dan patah, di antara daun-daun yang hijau dan kuat akan ada daun yang sudah tua dan layu. Dan dedaunan itu pun jatuh berguguran, satu persatu. Setelah daun yang jatuh dan berguguran akan ada pengganti daun yang jauh lebih hijau dan kuat.

Begitulah jalan dakwah, di setiap jalannya ada saja yang berguguran. Kami sadar, jalan ini hanyalah dapat dilalui dengan orang-orang kuat dan tangguh. Kami sadar, hanya orang-orang pilihan Allah yang tetap berada di jalan cinta-Nya. Dan kami sadar, ukhuwah ini kian bersemai dengan indah, berdendang dengan indah menghiasi langit-langit kehidupan kami. Ya, aku mulai mengerti apa makna pershabatan yang sesungguhnya. Ketika aku artikan persahabatan, ini lebih dari itu. Aku sadar, sering kali aku berpikir buruk kepada teman-temanku, sering kali aku tidak sepaham dengan teman-temanku. Tetapi ketika kuartikan lagi apa makna ukhuwah, aku semakin mengerti dan memahaminya. Di saat aku lelah, mereka selalu berusaha memberikan aku semangat, ketika aku mulai menyimpang dari jalan-Nya, mereka mengingatkan dan mengarahkanku. Indah bukan? Aku selama ini inginkan seorang sahabat yang baik, bukan hanya sahabat yang mengingatkan dan membuatku merasa bahagia di dunia saja akan tetapi selalu mengingatkanku dan membuatku merasa bahagia karena nasihatnya. Mereka yang selalu mengingatkanku bahwa surga itu mahal, mereka yang selalu mengingatkanku tentang ayat-ayat cinta-Nya yang maknanya begitu dalam untuk diresapi. Ya, ketika aku mulai merasa jenuh dan bosan mereka berulang-ulang kali mengingatkanku.

“Ingat ya teman-teman! Kita harus ingat apa makna dari surat Muhammad ayat 7”

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”

Kau tahu apa yang selalu membuatku bahagia? Ketika aku memiliki orang tuaku, keluargu dan juga mereka, sahabat-sahabat tercintaku, sahabat seperjuanganku dan kakak-kakak Rohis. Ketika Allah mempertemukanku dengan orang-orang luar biasa seperti mereka, sungguh aku bahagia dan bersyukur. Bahkan aku bisa lebih mengenal dan dekat dengan mereka. Sungguh, aku tak pernah membayangkannya, tak pernah sedikit pun terbesit dalam bayanganku, tak pernah sedikit pun aku menerka-nerka. Semua terjadi begitu indah, sungguh indah seindah firman-Nya, sungguh manis semanis cinta kasih-Nya.

Dan aku selau teringat lirik lagu dari nasyid yang bernama Snada yang berjudul Teman Sejati, seperti ini liriknya.

Selama ini kumencari-cari teman yang sejati

Buat menemani perjuangan suci

Bersyukur kini pada-Mu Illahi

Teman yang dicari selama ini telah kutemui

Dengannya di sisi

Perjuangan ini tenang diharungi

Bertambah murni kasih Illahi.


Seperti itulah lirik lagunya, sederhana namun memiliki makna yang begitu dalam dan mampu menyentuh. Ketika di luar sana banyak orang-orang yang sibuk mencari seorang sahabat karena untuk berleha-leha, untuk bersenang-senang dan bermaksiat, di sini Allah pertemukan aku dengan mereka. Aku takkan pernah bisa mendapatkan sahabat seperti mereka, sahabat yang senantiasa menemani perjuangan ini. Hati kami terikat karena ikatan cinta-Nya. Ada satu lagu lagi yang selalu membuatku semangat dalam menjalani hari-hariku, dalam berdakwah. Lagu nasyid dari Izzatul Islam yang berjudul Rabithah.

Sesungguhnya Engkau tahu
Bahwa hati ini telah berpadu
Berhimpun dalam naungan cintaMu
Bertemu dalam ketaatan
Bersatu dalam perjuangan
Menegakkan syariat dalam kehidupan

Sekali lagi kami sadar, kami tahu di antara kami aka nada yang tumbang dan berguguran di jalan-Nya. Baru setengah jalan mereka menjauh bahkan pergi meninggalkan Rohis, pergi meninggalkan dakwah ini. Akan tetapi kami tetap berada di jalan ini, walau terkadang aku sendiri suka merasa lelah dan ingin menyelesaikannya secepat mungkin. Ingin rasanya aku melepaskan amanah ini, tetapi Allah senantiasa menutup pintu hatiku untuk keluar dari jalan ini. Sedangkan mereka, sahabat-sahabatku senantiasa mengingatkan aku. Tak hanya sahabat-sahabatku saja tetapi kakak-kakak Rohis pun senantiasa memberikan kami semangat juang yang tinggi, senantiasa memberikan tausiyah, nasiha-nasihat yang mampu menenangkan. Tidak, aku tidak akan pernah melupaka mereka, sahabat dan kakak-kakak Rohis seperti mereka. Karena bertemu dan mengenal dengan mereka merupakan sebuah anugerah dari-Nya.

Jumat, 06 September 2013

Ketika Secercah Cahaya itu Datang

Bismillahirrohmanirrohiim.
Mohon maaf untuk kalian yang saya sebutkan namanya dalam sebuah tulisan. Saya akan menuliskan semua nama kalian yang sudah memasuki fase kehidupanku. 

Ketika aku masuk SMAN 58, ketika itu pula aku masuk dalam sebuah lingkaran organisasi. Ya, organisasi itu bernama ROHIS. Sungguh aku bersyukur pada Rabbi Izzati yang telah mempertemukan aku dengan orang-orang yang shalih dan shalihah.
Allah pun mengubah arahan di hidupku.
Aku merasakan sesuatu yang tak pernah aku rasakan dan dapatkan sebelumnya. Akhirnya setelah aku dan teman-teman selesai menjadi pengurus, aku memiliki mimpi. Mimpi itu kian menghampiriku. 
Kutekadkan niat dalam hati, aku harus bisa!!
Mimpiku itu ialah aku ingin mengaktifkan ROHIS SMP dan SMA BD.
Akhirnya setelah aku selesai UAN dan segala macam, hanya menunggu pengumuman aku niatkan diri untuk ke SMP-ku tercinta.
Aku datang dengan penuh semangat dan optimis. Tak lupa menyebut nama Allah.
Alhamdulillah ketika aku berbicara dengan bu Uswatun dan pak Jupri beliau mengizinkannya.
Saya meminta izin dengan pak Jupri karena beliau selaku pembina Rohis SMA-nya. Lalu bu Uswatun pembina Rohis SMP-nya.
Aku bersyukur karena niatku itu disambut baik.
Awalnya aku baru mencoba ngisi mentoring di SMA. Sekali -tiga kali pertemuan aku shock. Karena lumayan banyak yang datang.
selama satu bulan- 2 bulan mengisi di SMA dan SMP. SMA setiap hari rabu sedangkan SMP hari jumat.
Saat itu pak Jupri meminta tolong mencari ikhwan 58 untuk mengisi di SMA.
Alhamdulillah kak Rahmat bersedia. Tapi aku tidak tahu apakah sudah berjalan atau belum. Tapi ketika aku menanyakan hal itu kalau nggak salah kata ka Rahmat hanya sekali. Aku lupa.
Lalu semakin ke depan semakin dikit yang datang mentoring. Yang awalnya bisa sampai 10-15 akhwat. Tapi menjadi 5, 3, 2. Tapi tak apa, karena mereka masih semangat.
Lalu di SMP aku minta tolong sama temenku yang bernama Arin, Rena, dan Ardi.
Mereka pun bersedia. Sungguh aku bersyukur.
Setelah beberapa bulan kemudian, pengumuman itu datang.
Satu persatu menghampiriku.
Aku bahagia dan bersyukur.
Tapi aku pun sadar tak selamanya mereka bisa membantuku.
Ketika aku datang ke acara Tafakur Alam angkatan 22, aku tumpahkan segalanya di sana.
Ya, aku ingat ketika kami berdoa bersama. Ka Dian yang menjadi pemimpin doa.
Memanjatkan doa dan mimpi kami.
Awalnya suasana begitu ramai oleh tawaan dan candaan, namun setelah aku yang mendapatkan giliran semua diam. Suasana semakin hening dan haru.
"Semoga Allah senantiasa melembutkan hati orang tuaku, semoga aku bisa tetap istiqomah, semoga aku bisaa...." belum sempat aku memanjatkan doaku, aku tak kuasa untuk menahannya, aku pun menangis terisak-isak. Lalu hening memecehkan dinding-dinding kehidupan.
"Semoga aku bisa menghidupkan Rohis SMP BD, walau pun aku tahu nggak bisa seperti Rohis 58, tapi seenggaknya Rohis di SMP bisa ada. Aku mohon bantuan kakak dan teman-teman di sini, aku nggak bisa sendirian." aku pun menangis terisak-isak.
Lalu sang kakak, ka Dian berkata "Ika, kami di sini nggak selalu bisa membantu Ika. Tapi seenggaknya Ika sudah memberikan secercah cahaya untuk SMP Ika. Tetap jalanin ya Dek." Begitulah kiranya, aku tak hapal bagaimana susunan katanya, tapi seperti itulah kiranya.
Setelah beberapa bulan kemudian, pengumuman itu datang.
Satu persatu menghampiriku.
Pertama aku tahu Ardi keterima di IPB, siapa yang tidak bahagia mendengar temannya mendapatkan Universitas favorit.
Lalu kudengar lagi Arin keterima di UNJ, dan Rena kuliah di sebuah Universitas, STIE Ganesha.
Dan aku di UHAMKA.
Oh Allah, bahagia, sedih, sesak semua menjadi satu.
Bahagia karena kami bisa merasakan kuliah.
Sedih karena seiring dengan berjalannya waktu mereka bertiga susah untuk ke BD lagi.
Tapi dulu, ketika kami mengisi dengan percayanya aku mengatakan "InsyaAllah saya akan tetap ada di sini, tetap istiqomah ya Dek." sejujurnya aku ingin menangis, tapi rasanya tidak mungkin aku menangis di depan mereka.
Sampai pada akhirnya aku pun menangis.
Ya, ketika aku ngisi dan hanya aku seorang diri. Tanpa ditemani Rena, Arin dan Ardi.
Ketika aku mengisi lebih banyak ikhwannya, kira-kira 8:2 bahkan 8:1.
Sesak dan sedih rasanya ketika mereka mulai bertanya-tanya tentang ketiga sahabatku.
"Kak Ika, kok ka Arin, Rena dan ka Ardi nggak ngisi lagi sih? Kok kak Ika jadi sendirian sih?"
dan bu Uswatun pun berkata "Mba, ke mana mba Arin, Rena dam mas Ardi? Kok udah nggak pernah ngisi lagi? Oh iya pasti sudah kuliah ya, sibuk."
Lalu di saat Arin dan Rena menemaniku lagi mereka pun senang.
Dan ketika Ardi datang lagi mereka pun senang.
Ya, aku tahu aku tidak selalu bisa mengharapkan mereka semua.
Dan lagi-lagi dan lagi, ketika mereka mulai tak muncul. Mulai pergi lagi, mereka dan bu Uswatun selalu saja menanyakan hal yang sama seperti yang sebelumnya
Oh Allah, rasanya aku ingin menangis. Tapiiiii?
Ya, menangis di hadapan-Mu merupakan hal yang paling jitu.
Aku tahu mereka sudah kuliah begitu pun dengan aku. Tapi mana mungkin aku meninggalkan semua ini? Ketika aku memulainya dengan penuh semangat dan rasa percaya diri.
Oh Allah, bahkan yang lebih sesak ketika mereka berteriak dan mengatakan.
"Kak Ika, ka Ardi ke mana sih? Sibuk banget apa?"
aku pun menjawab "Iya kak Ardi kuliah Dek, jadi kalau lagi libur aja ke sininya. Lagian sama aja kan mau ngisi kak Ika atau ka Arin atau ka Rena atau ka Ardi?"
Di antara mereka, beberapa ada yang menjawab 
"Enggak ah kak, aku maunya sama ka Ardi aja, enakan sama ka Ardi." 
"Iya kak Ika, ka Ardi itu asyik orangya." Jleeeeeeeeb, Astaghfirullah.
Rasanya aku ingin nangis dan mengatakan "Hai adikku sayang, yang ada di depanmu ini ka Ika bukan ka Ardi. Bisakah kalian kalau setiap kali ada Rohis kalian nggak nanya ka Ardi? Saya yang ada di sini Dek, saya, saya bukan Ardi!" Tapi tidak mungkin aku mengatakan seperti itu.
Lalu aku pun menjawab "Dek, sabar ya. Kalau kak Ardi libur insya Allah ke sini kok. Tenang ajah."
Mungkin memang mereka sudah merasa dekat dan enjoy dengan Ardi.
Dan kau tahu? Waktu itu ada seorang ikhwan yang tumben sekali sms-ku dan menanyakan kabar Rohis SMP-ku.
Awalnya aku senang karena ia katanya ingin mencoba ngisi di SMP-ku, tapi ternyata hanya ucapan saja. Tapi tak apalah, aku masih bisa sendiri.
Waktu itu juga pernah ada yang bertanya tentang Rohis di SMP-ku, ya kakak alumni.
Aku pun sempat koordinasi dengan ka Gilang dan ka Ardi, mereka alumni SMA BD. Yang kutahu, mereka ketika SMA anak Rohis. Tapi karena kami juga memiliki pendapat yang berbeda dan itu yang membuatku tidak "srek"
Tapi sungguh dan sekali lagi. 
Aku tidak membutuhkan sekadar UCAPAN atau JANJI. 
Yang kubutuhkan ialah TINDAKAN. Sampai akhirnya aku tidak pernah lagi koordinasi dengan dua kakak itu, karena aku terlalu lama menunggu mereka. Karena aku nggak bisa yang namanya menunggu, apalagi kalau hal dalam berbuat kebaikan.
Kulupakan semua janji dan ucapan mereka. Walau terkadang dalam hati rasanya ingin sekali ada yang membantu.
Sendiri, ya, lagi dan lagi sendiri
Sendiri ya, lagi dan lagi sendiri untuk menjalankan ini.
Kemarin, yang lalu, ia dan mereka turut membantu.
Tapi, aku sadar dan paham setiap kami punya cerita yang berbeda.
Ya, aku tidak sendiri wahai hati. Allah senantiasa menyinari langkahku.
Entah ini amanah atau bukan, tetapi ini, ya ini harap dan citaku ketika aku masih duduk dibangku SMA.
Ya, ketika kami berdoa.
Ketika seorang kakak shalihah yang memimpin doa.
Menyebutkan satu-persatu impian kami, akulah orang pertama yang menangis terisak-isak.
Hingga suasana yang semula ramai seketika menjadi hening dan haru.
Aku, ya aku yang membuat teman-temanku pun ikut menangis.
Sesak rasanya, 
karena aku belum bisa jadi kakak yang baik.
Mimpi itu, ya mimpi yang tak pernah terhapus dalam memori otakku.
Akan selalu terekam dengan baik dan rapi.
Mimpi itu, tak pernah lekang oleh waktu.
Meski terkadang ia redup, lalu bersinar kembali, lebih terang.
Ketika aku menyebutkan mimpi itu dihadapan mereka, 
sungguh bibirku kaku, tak mampu untuk digerakkan, seakan terekat oleh lem.
Lalu, kucoba merangkai kata.
Akhirnya aku pun mampu melisankannya.
Mereka tercengang, mungkin merasa iba, atau merasa tersentuh. Entahlah.
Lalu, ia sang kakak shaliha itu mengatakan
"Ika, sesungguhnya Ika sudah memberikan secercah sinar. Ika, kakak dan kami di sini memang tidak selalu bisa membantumu, tapi Ika jangan pernah berhenti sampai di sini. Ada Allah."
Begitulah kiranya.
Kusandarkan semua pada Rabbi Izzati.