Sabtu, 08 Oktober 2016

Mengetuk Maaf-Mu


 
Dan malam apabila datang bersama cahaya
Dan hamparan langit yang menjadikan hati terasa lapang
Dan mata menatap luasnya langit gelap
Dan bintang-bintang ketika bersinar
dan bulan apabila datang menemani bintang
dan segala sesuatu yang menandakan adanya malam
dengan suara-suara angin yang ramai berbincang,
menghibur hati yang selalu berharap cemas, dan takut
Lalu angin mengembuskan kesejukan,
memberikan ketenangan pada hati yang sibuk mengaduh pada pemilik hati,
pemilik hati yang senantiasa menghidupkan rasa dan mematikan rasa,
pada hati yang senantiasa menitipkan kerinduan
dan disampaikannya pada malam, langit beserta isinya.
Allahu Rabb,
bahwa sejatinya malam adalah cara yang membuat manusia sepi:
Tertunduk dalam pintu-Mu
pada lelehan air mata, memohon ampunan-Mu.



17 Juni 2016

Mata Apa?





Ada sebagian orang menggunakan matanya karena nafsu,
hanya untuk melihat kemaksiatan
dan hal-hal yang entah apa manfaatnya
Ada mata yang berjaga-jaga, melihat sekeliling
agar jangan sampai ada musuh yang menyusup
Mata yang tetap berjaga,
yang biasa mereka sebut fii sabilillah
Ada sebagian mata yang digunakan untuk menangis,
dalam haru dan khusyuk
mata yang tak terpejam ketika malam mulai datang
tenggelam dalam renungan dan tangisan.

“Kamu, menggunakan mata untuk apa?”

18 Juni 2016

Sisa Embun




Masih tersisa embun pagi tadi,
menyapa dengan riang,
lantas menyeka ingatan tentang masa lampau,
dikit-dikit
hingga tak membekas

yang membiarkan tetesannya mengawali harapan-harapan baru:
suatu masa di mana aku dan kau:
seseorang di masa depan,
dan kami sama-sama saling menemukan.


Jakarta, 15 Juli 2016

Telaga Milikmu






Ada telaga di sana:
di dadamu
pada matamu
dalam senyummu
pada pelukanmu
dalam kasihmu
di setiap doa-doamu

Aku tahu jernihnya ada pada dirimu, Bu
Seluruh tubuhmu adalah mata air yang tak pernah surut
dan kasih sayangmu dapat aku lihat dari telaga luas
yang membiarkan aku bercermin pada bayanganku sendiri
di tempat itu

dadamu lapang, sebagaimana hijaunya kumpulan air di sana
dibiarkan berkumpul pada tempat yang luas
dan aku bisa puas menjatuhkan diriku hingga basah
sampai meresap ke seluruh ragaku

matamu adalah harapan luas yang tak pernah henti mengalirkan  beningnya cintamu
senyummu adalah penghapus gusarku, mendatangkan seteguk ketenangan
pelukanmu adalah penawar lelahku, mengantarkan semangkuk kekuatan
kasihmu adalah pengobat resahku, mengubah api-api kecil dengan secangkir air sejuk
dan doamu adalah pengantar inginku, menjadikan nyata, bukan sekadar bayangan yang hanya dapat kulihat dibalik cermin telaga itu.


September 2016

Layaknya Hujan, Rindu Datang Tiba-Tiba





Rindu adalah tetesan rasa dari dinding kokoh yang bernama hati. Selalu saja datang tiba-tiba, merembas dan membanjiri sekelumit peristiwa yang akan selalu terkenang. Rindu layaknya hujan yang datang tiba-tiba. Airnya jatuh membasahi segala yang ada di seki­tarnya. Saat kau berupaya untuk memakai jas hujan, payung dan perlengkapan ketika hujan, tetap saja percikan air hujan itu akan mengenai wajah, bukan?

Setiap embusan anginnya menyejukkan pikiran-pikiran kau ten­tang seorang laki-laki pilihan Allah yang selalu lekap dalam zaman; tidak pernah terlupakan dan akan selalu menjadi sebuah harapan untuk bertemu dengannya. Rintik hujannya ialah kisah-kisah ten­tang sesosok laki-laki yang berjalan penuh keyakinan dan ketegu­hannya dalam menjalankan amanah dari Allah.

Apalah arti rindu ini, jika kau hanya sebatas mengetahuinya melalu ayat-ayat cin­ta-Nya. Sebatas kau hanya mengetahui lewat lisan-lisan manusia yang senantiasa mengagumkan lelaki kekasih Allah. Sebatas kau hanya mengetahui melalui buku-buku atau bahan bacaan yang se­lalu membuatmu ingin bertemu dengan sesosok laki-laki itu.

“Aku rindu, layaknya hujan sore ini yang jatuh di atas tanah. Ada kalanya berhenti, ada kalanya juga kembali jatuh. Tetapi, tetap saja wangi hujan itu tetap tercium, sampai memasuki indra penciu­manku lalu otak yang akan menyimpannya. Seperti hujan sore ini, bahwa rindu datang tiba-tiba, menyelimuti seluruh kisah terbaik di muka bumi ini. Seperti hujan sore ini, mengalirkan rintik-rintik rindu dalam lantunan doa dan harapan ingin berjumpa. Aku rindu, padamu ya Rasulullah.”

Begitulah kata kau, rindu dalam hujan tentang Rasulullah. Kata kau saban hari, tidak hanya di waktu hujan saja rindu itu hadir, setiap hari rindu itu selalu hadir. Tetapi kata kau, setiap hujan turun rindu itu semakin menderas dan membasahi ingatanmu, bahkan boleh jadi membasahi pipimu.

“Saudara-saudaraku adalah mereka yang belum pernah melihat­ku tetapi mereka beriman denganku dan mereka mencintai aku melebihi anak dan orang tua mereka. Mereka itu adalah saudara-saudaraku dan mereka bersama denganku. Beruntunglah mereka yang melihatku dan beriman kepadaku dan beruntung juga mere­ka yang beriman kepadaku sedangkan mereka tidak pernah meli­hatku.”

Kau selalu mengingat kalimat itu lantas kau bertanya dalam hati, “apakah aku termasuk di antaranya?” Kau hanya selalu berharap bisa mencintai lelaki pilihan Allah dengan cinta semurni-murninya cinta. Tetapi, kau tidak pernah tahu apakah Rasulullah mencin­taimu dan merindukanmu.