Sabtu, 08 Oktober 2016

Mengais Cinta-Mu





Allahku,
Aku selalu tarjaga pada tidurku, dalam dekapan-Mu
Engkau senantiasa berfirman dengan cinta-Mu
Engkau seringkali memeluk kasih dengan enigma-Mu

Pusatkan segala ragaku di ruang kosong,
Agar seluruh tubuhku,
Agar menggigil karena pelukan-Mu
Biar alam mendengar
Dan malaikat-malaikat mengaminkan
Jangan tutup pintu-Mu,
Jangan padamkan cahaya-Mu
Bisikkan kata-kata padaku
Agar tersentak sukmaku
yang telah lama tertipu bayang dunia

Allah,
Getarkan sujud panjangku
Agar hanya kepada-Mu aku kembali
Agar kepada-Mu aku menangis
Merintih, dan mengais kasih sayang-Mu selalu.

Juli 2016

Rindu yang Tak Terbilang: Rasulullah





Aku rindu,
dan rindu ini telah kusulam dari lonceng nuraniku,
dan kurapal doa yang terjaga,

Rindu yang entah kapan akan membuatku merasa jatuh dalam taman ketenangan,
kerinduan yang tak berujung,
selalu menciptakan bayang-bayang,
bahkan meninggalkan jejak pada lorong,
terpendam pada jiwa yang merekat

Aku ingin engkau menyapaku,
lantas aku menjawab,
aku ingin menjadi bagian dari dirimu,
dan engkau menjadi bagian dari diriku,

Aku rindu pada setiap rajutan kata yang terucap dari lisanmu,
pada akhlak yang kau bungkus dengan cahaya,
aku rindu padamu, ya Rasulullah.




15 Juli 2016

Mengetuk Maaf-Mu


 
Dan malam apabila datang bersama cahaya
Dan hamparan langit yang menjadikan hati terasa lapang
Dan mata menatap luasnya langit gelap
Dan bintang-bintang ketika bersinar
dan bulan apabila datang menemani bintang
dan segala sesuatu yang menandakan adanya malam
dengan suara-suara angin yang ramai berbincang,
menghibur hati yang selalu berharap cemas, dan takut
Lalu angin mengembuskan kesejukan,
memberikan ketenangan pada hati yang sibuk mengaduh pada pemilik hati,
pemilik hati yang senantiasa menghidupkan rasa dan mematikan rasa,
pada hati yang senantiasa menitipkan kerinduan
dan disampaikannya pada malam, langit beserta isinya.
Allahu Rabb,
bahwa sejatinya malam adalah cara yang membuat manusia sepi:
Tertunduk dalam pintu-Mu
pada lelehan air mata, memohon ampunan-Mu.



17 Juni 2016

Mata Apa?





Ada sebagian orang menggunakan matanya karena nafsu,
hanya untuk melihat kemaksiatan
dan hal-hal yang entah apa manfaatnya
Ada mata yang berjaga-jaga, melihat sekeliling
agar jangan sampai ada musuh yang menyusup
Mata yang tetap berjaga,
yang biasa mereka sebut fii sabilillah
Ada sebagian mata yang digunakan untuk menangis,
dalam haru dan khusyuk
mata yang tak terpejam ketika malam mulai datang
tenggelam dalam renungan dan tangisan.

“Kamu, menggunakan mata untuk apa?”

18 Juni 2016

Sisa Embun




Masih tersisa embun pagi tadi,
menyapa dengan riang,
lantas menyeka ingatan tentang masa lampau,
dikit-dikit
hingga tak membekas

yang membiarkan tetesannya mengawali harapan-harapan baru:
suatu masa di mana aku dan kau:
seseorang di masa depan,
dan kami sama-sama saling menemukan.


Jakarta, 15 Juli 2016

Telaga Milikmu






Ada telaga di sana:
di dadamu
pada matamu
dalam senyummu
pada pelukanmu
dalam kasihmu
di setiap doa-doamu

Aku tahu jernihnya ada pada dirimu, Bu
Seluruh tubuhmu adalah mata air yang tak pernah surut
dan kasih sayangmu dapat aku lihat dari telaga luas
yang membiarkan aku bercermin pada bayanganku sendiri
di tempat itu

dadamu lapang, sebagaimana hijaunya kumpulan air di sana
dibiarkan berkumpul pada tempat yang luas
dan aku bisa puas menjatuhkan diriku hingga basah
sampai meresap ke seluruh ragaku

matamu adalah harapan luas yang tak pernah henti mengalirkan  beningnya cintamu
senyummu adalah penghapus gusarku, mendatangkan seteguk ketenangan
pelukanmu adalah penawar lelahku, mengantarkan semangkuk kekuatan
kasihmu adalah pengobat resahku, mengubah api-api kecil dengan secangkir air sejuk
dan doamu adalah pengantar inginku, menjadikan nyata, bukan sekadar bayangan yang hanya dapat kulihat dibalik cermin telaga itu.


September 2016